Tampilkan postingan dengan label tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tasawuf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

KAROMAH WALI ALLAH


KAROMAH WALI ALLAH
Syaikh muhammad mahfud attarmasi di dalam kitabnya bughyatul adzkiya’ menjelaskan tentang karomah para wali dengan penjelasan yang enak dan mudah difahami, diperkuat dengan dalil-dalil dan pendapat para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabiin serta para ulama yang muktabar ketsiqohannya. Berikut pendapat syaikh muhammad mahfud attarmasi mengenai karomah wali yang ia nukil dari pendapat syaikh tajudin assubki dan ibnu hajar alhaitami :
“kata wali mempunyai dua arti: pertama, wali (ikut wazan fail yang bermakna maful) adalah orang yang senantiasa didalam pengawasan allah swt. kedua, wali (bentuk mubalaghoh dari fail ) adalah orang yang senantiasa beribadah dan mentaati allah swt. kedua pengertian wali tersebut wajib ada pada diri wali, yaitu senantiasa melaksanakan hak-hal allah swt dan penjagaan allah diwaktu lapang dan susah.”
Ciri-ciri seorang wali ada tiga : ia menyibukkan diri untuk allah swt, ia berlindung kepada allah , dan keinginannya adalah untuk mentaati allah”[1]
Adapun pengertian karamah adalah terlihatnya suatu perkara dari seorang mukmin yang sholih yang terjadi di luar kebiasaan tanpa disertai pengakuan kenabian atau kerasulan. Adapun kalau hal tersebut terjadi pada orang yang tidak beriman dan beramal sholih yang demikian disebut istidroj, dan apabila hal tersebut terjadi dengan desertai pengakuan kenabian atau kerasulan maka disebut mukjizat. Mukjizat diberikan khusus kepada para nabi, adapun karamah diberikan kepada para waliallah. Pendapat ini sebagaimana pendapat yang disampaikan oleh alqodli abu bakar albaqilani. [2]
Dalam menjelaskan karamah syaikh muhammad mahfud attarmasi menyebutkan dalil-dali yang menunjukkan adanya karamah dari alqur’an, hadis dan qoul sahabat (pendapat para sahabat).
Dalil alqur’an tentang karamah
1. kisah sayyidah maryam ketika ia mengandung bayi tanpa seorang suami, dan ketika ia mendapatkan kurma dari pohon yang kering, dan ketika ia mendapatkan rizki yang tidak disangka (diketahui penyebabnya).[3] Sebagaimana firman allah swt :
كلما دخل عليها زكريا المحراب وجد عندها رزقا قال يا مريم أنى لك هذا قالت هو من عند الله إن الله يرزق من يشاء بغير حساب
Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. Ali Imran: 37 )
Dia maryam bukanlah nabi sebagaimana keyakinan ahlussunnah, maka yang demikian tidak disebut sebagai mukjizat melainkan karamah. Begitu juga firman allah :
وهزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا
dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,
2. kisah ibu musa yaitu ketika ia mendapat ilham dari allah sehingga hatinya merasa tenang ketika membuang bayinya (nabi musa) ke sungai. Imam alharamain (abu ma’ali aljuwaini berkata :tidak ada satupun ahli sejarah yang mengatakan bahwa ibu nabi musa adalah seorang nabi yang memiliki mukjizat.
3. kisah ashabul kahfi, sesungguhnya tidur mereka selama tiga ratus tahun lebih dalam keadaan hidup tanpa terkena penyakit dengan tubuh yang kuat seperti biasa tanpa makan dan minum adalah perkara diluar kebiasaan manusia, dan mereka bukan nabi, maka hal tersebut tidak disebut sebagai mukjizat, melainkan karamah.
ولبثوا في كهفهم ثلاث مائة سنين وازدادوا تسعا
25. dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. Alkahfi : 25)
4. kisah asif bin barkhiya ketika membawakan singgasana bilqis kepada nabi sulaiman sebelum ia memejamkan matanya (sebagaimana pendapat mayoritas ulama tafsir). Sebagaimana firman allah swt :
قال الذي عنده علم من الكتاب أنا آتيك به قبل أن يرتد إليك طرفك فلما رآه مستقرا عنده قال هذا من فضل ربي ليبلوني أأشكر أم أكفر ومن شكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن ربي غني كريم
40. berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab (zabur dan taurat) : "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (qs. Annaml : 40)
Dalil assunnah tentang karamah
1.hadis tentang tiga orang yang masuk ke dalam gua, kemudian tertutup batu besar. Allah swt memberikan pertolongan dengan doa mereka yang ikhlas dan jujur.
2. bayi yang bisa berbicara kepada junaid
3. diriwayatkan imam muslim :
(رب أشعث أغبر مدفوع بالأبواب لو أقسم على الله لأبره)
Berkata ibnu hajar alhaitami sebagaimana yang dinukil oleh syaikh muhammad mahfud attarmasi : “seandainya tidak ada yang lain selain hadis ini, niscaya sudah cukup untuk pembahasan tentang karamah.”[4]
Karamah para sahabat
Karaomah abu abakar
Imam bukhori meriwayatkan : Saat itu Abu Bakar makan malam di sisi 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hingga waktu isya,
 dan ia tetap di sana hingga shalat dilaksanakan.
 Ketika Abu Bakar pulang di waktu yang sudah malam isterinya (ibuku) berkata,
 "Apa yang menghalangimu untuk menjamu tamu-tamumu?" Abu Bakar balik bertanya,
 "Kenapa tidak engkau jamu mereka?" Isterinya menjawab, 
"Mereka enggan untuk makan hingga engkau kembali, padahal mereka sudah ditawari." 
'Abdurrahman berkata, "Kemudian aku pergi dan bersembunyi." 
Abu Bakar lantas berkata, "Wahai Ghuntsar (kalimat celaan)!" 
Abu Bakar terus saja marah dan mencela (aku).
 Kemudian ia berkata (kepada tamu-tamunya), "Makanlah kalian semua."
 Kemudian tamunya mengatakan, "Selamanya kami tidak akan makan. 
Demi Allah, tidaklah kami ambil satu suap kecuali makanan tersebut justru bertambah
 semakin banyak dari yang semula." 'Abdurrahman berkata,
 "Mereka kenyang semua, dan makanan tersebut menjadi tiga kali lebih banyak
 dari yang semula. Abu Bakar memandangi makanan tersebut tetap utuh
 bahkan lebih banyak lagi. Kemudian ia berkata kepada isterinya, 
"Wahai saudara perempuan Bani Firas, bagaimana ini?" Isterinya menjawab, 
"Tak masalah, bahkan itu suatu kebahagiaan, ia bertambah tiga kali lipatnya."
Karaomah umar ibn khottab
Umar ibn khottab memerintahkan sariah memimpin pasukan dan menyiapkan mereka ke persia. Pasukan islam ketika di persia dikepung musuh yang banyak di pintu masuk nahawand, hampir saja umat islam mengalami kekalahan. Umar saat itu berada di madinah, kemudian ia naik mimbar untuk berkhutbah kemudian berteriak kencang disaat khutbah : “wahai sariyah ke gunung, wahai sariyah ke gunung”. Allah swt memperdengarkan suara itu kepada sariah dan pasukannya, sehingga mereka berlindung ke gunung seraya berkata : “ ini adalah suara amirul mukminin” mereka pun selamat dan memperoleh kemenangan.
Diantara karamah umar ibn khottob adalah ketika sungai nil kering tidak mengalir airnya, amru ibn ash mengirim surat kepada umar ibn khottob yang berada di madinah memberitahukan tentang apa yang terjadi. Maka umar membalas surat tersebut :  “anda benar, agama islam menghancurkan yang dulu (jahiliyah). Bersama ini aku mengirim surat, lemparkanlah surat itu ke sungai nil” amru ibn ash membuka surat itu sebelum melemparnya, di dalamnya tertulis :
“dari amirul mukminin kepada sungai nil mesir, amma ba’du, jika kamu pernah mengalir , kemudian tidak mengalir. Sesungguhnya allah swt dzat yang maha esa dan maha perkasa. Dialah dzat yang mengalirkan kamu, kami memohon kepada allah swt agar mengalirkanmu.”
Kemudian amru melemparkan surat itu ke sungai nil, lalu mengalirlah sungai nil dengan izin allah swt.[5]
Karomah ustman ibn affan
Datang kepada ustman seorang laki-laki, sebelumnya ia melihat seorang wanita di jalan dan membangkannya, ustman berkata kepadanya: “seseorang masuk dan dimatanya ada bekas zina”, berkata orang tersebut: “apakah ada wahyu setelah rosulullah saw (meninggal)? Jawab ustman; “tidak ada, tetapi yang demikian itu firasat.”
Karomah ali ibn abi tholib
Ada seorang yang lumpuh karena telah memukul bapaknya, kemudian ia menyesali perbuatan tersebut, tetapi bapaknya sudah meninggal. Ketika ali mengetahui kisah yang sesungguhnya telah terjadi kepadanya, ia sholat beberapa rokaat dan berdoa kepada allah, kemudian berkata : “wahai mubarak, berdirilah”, seketika itu ia dapat berdiri dan berjalan seperti sebelumnya.[6]
Banyak kisah tentang karamah yang allah berikan kepada para sahabat, seperti terkabulnya doa abbas paman nabi disaat meminta hujan, karaomah saad ibn abi waqqosh yaitu doa-doa yang mustjab, karomah ala’ ibn khadromi yang diutus rosulullah saw untuk memimpin pasukan kemudian terhalang oleh lautan, kemudian ia berdoa kepada allah swt, mereka pun bisa berjalan diatas air. Karomah kholid ibn walid pernah ia meminum air yang diracun tetapi tidak terjadi apa-apa pada dirinya dan para sahabat rosulullah saw yang lain.[7]
Adapun karamah yang diberikan kepada para ulama setelah masa sahabat lebih banyak, karena itulah imam ahmad ibn hanbal berkata ketika ditanya hal tersebut : “mereka (para sahabat) keimanan mereka kuat, sehingga mereka tidak membutuhkan karamah yang dapat menambahkan keyakinan mereka, sedang keimanan manusia setelah mereka lemah, sehingga membuthkan hal untuk menambah keyakinan mereka yaitu dengan menampakkan karamah”[8]
Perbedaan Antara Karamah Dan Sihir
Syaikh muhammad mahfud attarmasi menukil dari penjelasan almuhaqqiq ibnu hajar al-asqolani : “perbedaan antar karamah dan sihir adalah kejadian yang tidak biasa (yang tidak disertai dengan pengakuan kenabian) apabila terjadi pada orang yang sholih yang senantiasa menunaikan hak-hak allah swt dan hak-hak makhluknya disebut karamah. Sedangkan kalau yang demikian terjadi pada orang yang tidak sholih maka disebut sihir atau istidroj.”[9]
Syaikh muhammad mahfud attarmasi menegaskan bahwa para ulama yang diberi karamah bukan berarti mereka lebih utama dari pada para ulama yang tidak diberi karamah. Karena keutamaan seseorang terletak pada kuatnya keyakinan dan kesempurnaannya mengenal allah swt. maka ornag yang keyakinannya lebih kuat dan pengetahunaanya kepada allah lebih lengkap maka ia lebih utama.[10] Sebagaimana firman allah swt :
إن أكرمكم عند الله أتقاكم
“Sesungguhnnya orang yang paling mulia disisi allah adalah orang yang paling bertaqwa” (qs. Attahrim : )

Demikianlah pendapat syaikh muhammad mahfud attarmasi tentang karomah. semoga bermanfaat untuk menambah keimanan atau keyakina kita tentang adanya karamah yang allah berikan kepada waliNya. 
diterjemahkan oleh : Dzul Kifli Hadi Imawan ibnu Muhammad Amnan Alqudsyi, Lc
kitab : bughyatul adzkiya li syaikh muhammad mahfud altarmasi aljawi almakki






[1] syaikh muhammad mahfud altarmasi, bughyah aladzkiya (yogyakarta:alfikroh). hal. 1-2
[2] Ibid. hal.3
[3] Ibid. hal. 21
[4] Ibid. hal. 35
[5] Ibid. hal. 13
[6] Ibid. hal. 16
[7] Ibid. hal. 17-19
[8] Ibid. hal. 20
[9] Ibid. hal. 40
[10] Ibid. hal. 46

Senin, 19 November 2012

Dasar-dasar Tasawwuf (Hadrotus Syaikh K.H.Hasyim Asy'ari)


Dasar-dasar Tasawwuf (Hadrotus Syaikh K.H.Hasyim Asy'ari)
Di dalam kitab jami'atul maqosid hadrotus syaikh hasyim asy'ari, beliau menulis mabadi' usul ila thoriqi tasawwuf
Dasar-dasar tasawwuf ada lima, pertama takut (taqwa) kepada allah baik di waktu sepi atau di waktu ramai, kedua, mengikuti sunnah dalam perkataan dan perbuatan, ketiga, berpaling dari mahluk (hanya bergantung kepada allah), keempat, ridho atas pemberian allah baik sedikit atau banyak, kelima, kembali kepada allah di waktu senang dan susah.
Ketaqwaan diperoleh dengan sifat wara’ dan istiqomah. Mengikuti sunnah dengan berhati-hati dan kemulian akhlaq. Berpaling dari mahluk dengan sabar dan tawakkal. Ridho kepada allah dengan qona’ah dan pasrah. Kembali kepada allah dengan bersyukur kepadaNya di waktu senang dan berlindung kepadaNya di waktu susah.
Dasar dari itu semua ada lima, pertama, uluwul himmah (kemauan yang tinggi), menjaga diri dari hal yang dilarang, ibadah dengan baik, melaksanakan azimah (tekad), dan mengagungkan nikmat allah. Barangsiapa yang tinggi kemauannya, terangkat derajatnya. Dan siapa yang menjaga diri dari larangan allah, maka allah akan menjaga harga dirinya, barang siapa yang beribadah dengan baik (melayani allah dengan beribadah) allah akan memuliakannya, dan siapa yang melaksanakan tekadnya, allah akan senantiasa memberinya hidayah, dan siapa yang mengagungkan nikmat allah pasti bersyukur atas nikmat, dan orang yang mensyukuri nikmat allah, allah akan memberinya tambahan nikmat.
Ciri-ciri itu semua ada lima, pertama, mencari ilmu untuk melaksanakan perintah allah, kedua, dekat kepada para ulama dan teman untuk menambah ilmu, ketiga, meninggalkan rukhsoh dan ta’wil karena hati-hati, keempat, disiplin waktu untuk berdzikir (wirid), kelima,  mencela nafsu dalam segala hal agar mampu keluar dari hawa nafsu dan selamat kehancuran.
Kendala mencari ilmu adalah berteman dengan orang yang sedikit ilmunya (akalnya), umurnya, dan pengetahuan agamanya  karena tidak tahu dasar (dalil) dan kaidah.  bahaya teman adalah bujukan dan banyak bicara. akibat meninggalkan rukhsoh dan takwil agar timbul kelembutan jiwa, akibat mencela nafsu adalah menjaga keistiqomahan. Sebagaimana firman allah swt :
وإن تعدل كل عدل لا يؤخذ منها
Obat untuk penyakit hati ada lima, yaitu mengosongkan perut dengan sedikit makan dan minum, berlindung kepada allah swt dari menghadapi sesuatu, menjauhkan diri dari tempat-tempat yang dikhawatirkan jatuh didalamnya, senantiasa beristighfar dan bersholawat di waktu malam dan siang, dan berkawan dengan orang yang mengajak kamu mengenal allah.
Sebagai penutup penjelasan menuju allah swt yaitu dengan tobat dari segala yang diharamkan dan dimakruhkan, mencari ilmu sesuai yang dibutuhkan, senantiasa dalam keadaan thoharoh (suci), melaksanakan sholat fardlu di awal waktu dan berjamaah, rowatib, rajin sholat dhuha 8 rokaat, 6 rokaat antara sholat maghrib dan isya, sholat malam, witir, puasa senin-kamis, ayamul bid, dan puasa hari-hari yang mempungyai keutamaan, membaca alqur’an dengan tadabbur, memperbanyak istighfar, sholawat dan senantiasa berdzikir pagi dan petang.[1]


[1] Hasyim asy’ari, jamiatul maqosid(jombang: maktabah turost islami) hal. 34-36)

Sabtu, 07 Juli 2012

التصوف وأهميته في الدعوة


التصوف وأهميته في الدعوة
تعريف التصوف
لفظ التصوف والصوفية لم يكن معروفا في صدر الاسلام وإنما هو محدث بعد ذلك أو دخيل على الاسلام من أمم أخرى. لذلك اختلف الأقوال في معنى التصوف وحقيقته.
قَالَت طَائِفَة إِنَّمَا سميت الصُّوفِيَّة صوفية لصفاء أسرارها ونقاء اثارها . وَقَالَ بشر بن الْحَارِث الصُّوفِي من صفا قلبه لله.
وَقَالَ قوم إِنَّمَا سموا صوفية لقرب أوصافهم من أَوْصَاف أهل الصّفة الَّذين كَانُوا كَانُوا على عهد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم
 وَقَالَ قوم إِنَّمَا سموا صوفية للبسهم الصُّوف
وَأما من نسبهم إِلَى الصّفة وَالصُّوف فَإِنَّهُ عبر عَن ظَاهر أَحْوَالهم وَذَلِكَ أَنهم قوم قد تركُوا الدُّنْيَا فَخَرجُوا عَن الأوطان وهجروا الاخدان وساحوا فِي الْبِلَاد وأجاعوا الأكباد وأعروا الأجساد لم يَأْخُذُوا من الذنيا إِلَّا مَالا يجوز تَركه من ستر عَورَة وسد جوعة
فلخروجهم عَن الأوطان سموا غرباء
ولكثرة أسفارهم سموا سياحين
وَمن سياحتهم فِي البراري وإيوائهم إِلَى الكهوف عِنْد الضرورات سماهم بعض أهل الديار شكفتية والشكفت بلغتهم الْغَار والكهف
وَأهل الشَّام سموهم جوعية لأَنهم إِنَّمَا ينالون من الطَّعَام قدر مَا يُقيم الصلب للضَّرُورَة كَمَا قَالَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم بِحَسب ابْن آدم أكلات يقمن صلبه
وَمن تخليهم عَن الْأَمْلَاك سموا فُقَرَاء. 
فقد اجْتمعت هَذِه الْأَوْصَاف كلهَا ومعاني هَذِه الْأَسْمَاء كلهَا فِي أسامى الْقَوْم وألقابهم وَصحت هَذِه الْعبارَات وَقربت هَذِه المآخذ
وَإِن كَانَت هَذِه الْأَلْفَاظ متغيرة فِي الظَّاهِر فَإِن الْمعَانِي متفقة لِأَنَّهَا إِن أخذت من الصفاء والصفوة كَانَت صفوية
وَإِن أضيفت إِلَى الصَّفّ أَو الصّفة كَانَت صَفِيَّة أَو صَفِيَّة, وَإِن جعل مأخذه من الصُّوف استقام اللَّفْظ وَصحت الْعبارَة من حَيْثُ اللُّغَة.
وَقَالَ أَبُو عَليّ الزوذباري وَسُئِلَ عَن الصوفى فَقَالَ من لبس الصُّوف على الصفاء وَأطْعم الْهوى ذوق الْجفَاء وَكَانَت الدُّنْيَا مِنْهُ على الْقَفَا وسلك منهاج الْمُصْطَفى
وَسُئِلَ سهل بن عبد الله التسترِي من الصُّوفِي فَقَالَ من صفا من الكدر وامتلأ من الْفِكر وَانْقطع إِلَى الله من الْبشر واستوى عِنْده الذَّهَب والمدر
وَسُئِلَ أَبُو الْحسن النوري مَا التصوف فَقَالَ ترك كل حَظّ للنَّفس
وَسُئِلَ الْجُنَيْد عَن التصوف فَقَالَ تصفية الْقلب عَن مُوَافقَة الْبَريَّة ومفارقة الْأَخْلَاق الطبيعية وإخماد الصِّفَات البشرية ومجانبة الدَّوَاعِي النفسانية ومنازلة الصِّفَات الروحانية والتعلق بالعلوم الْحَقِيقِيَّة وَاسْتِعْمَال مَا هُوَ أولى على الأبدية والنصح لجَمِيع الْأمة وَالْوَفَاء لله على الْحَقِيقَة وَاتِّبَاع الرَّسُول صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فِي الشَّرِيعَة.[1]
أما تاريخ متى استخدمت كلمة الصوفي أو التصوف في لقب رجل ونسبة له، ذكر ذلك الإمام القشيري في الرسالة قال :
اعلموا رحمكم اللَّه تَعَالَى أَن الْمُسْلِمِينَ بَعْد رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يتسم أفاضلهم فِي عصرهم بتسمية علم سِوَى صحبة رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذ لا فضيلة فوقها , فقيل لَهُمْ: الصَّحَابَة , ولما أدركهم أهل العصر الثَّانِي سمى من صحب الصَّحَابَة التابعين , ورأوا ذَلِكَ أشرف سمة ثُمَّ قيل لمن بعدهم أتباع التابعين ثُمَّ أختلف النَّاس وتباينت المراتب , فقيل لخواص النَّاس مِمَّن لَهُمْ شدة عناية بأمر الدين: الزهاد والعباد ثُمَّ ظهرت البدع وحصل التداعي بَيْنَ الفرق فَكُل فريق أدعوا أَن فيهم زهدا، فانفرد خواص أهل السنة المراعون أنفاسهم مَعَ اللَّه تعالي الحافظون قلوبهم عَن طوارق الغفلة باسم التصوف واشتهر هَذَا الاسم لهؤلاء الأكابر قبل المائتين من الهجرة.[2]

وهكذا يتبين لنا أن التصوف نشأ مع اللإسلام وولد معه ، لأنه جزء منه وليس بشيء زائد عليه بل هو التطبيق العملي والجانب الروحي منه ، وهو لا يمت بصلة إلى ما يقوله أعداء الإسلام عنه أنه مأخوذ عن الأمم الأخرى ، بل ما هو في واقع الأمر إلا حال النبي - صلَّى الله عليه و سلَّم - وآله والقرون الثلاثة الأولى المشهود لها بالخيرية ، وما الصوفي إلا المسلم الذي يكون في حاله مع الله ومع الناس أقرب شئ إلى ما كان عليه النبي عليه الصلاة والسلام وصفوة أصحابه .

القرآن الكريم والسنة النبوية ( مصادر التصوف الإسلامي )
وقَالَ الإمام الجنيد[3]: من لَمْ يحفظ الْقُرْآن وَلَمْ يكتب الْحَدِيث لا يقتدى بِهِ فِي هَذَا الأمر، لأن علمنا هَذَا مقيد بالكتاب والسنة.
وقال : مذهبنا هَذَا مقيد بأصول الكتاب والسنة[4]
من هنا نعرف أن الصوفى هو من تبع الكتاب والسنة ، فى نقاء وسماحة واحتياط ، وشرطه أئمة الصوفية فى مريديها أخذاً من قوله تعالى : مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (٧٩) آل عمران .
الحَدِيث النبوى تخلقوا بأخلاق الله[5]
 وصوره الحَدِيث الْقُدسِي الذي رواه البخاري
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إن الله تعالى قال: من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إليّ مما افترضته عليه، ولا يزال عبدي يتقرب إليّ بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، ولئن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه " رواه البخاري.[6]
بهذا الدليل استدل الصوفي على عمل الفناء. وَبِهَذَا الفناء يحس الصُّوفِي إحساس ذوق ووجدان وقلب وروح بِإِذن الله سُبْحَانَهُ مَعَه وَفِي ضَمِيره وحركاته وكلماته.
فالفناء الصُّوفِي لَيْسَ فنَاء جَسَد فِي جَسَد وَلَا فنَاء روح فِي روح إِنَّه فنَاء إِرَادَة فِي إِرَادَة وفناء أَخْلَاق فِي اخلاق وصفات فِي صفيات أَو كَمَا يَقُول الصُّوفِيَّة فانيا عَن أَوْصَافه بَاقِيا بأوصاف الْحق
إِنَّه لتصعيد للكمال تصعيد تخفق أجنحته فِي أفق قدسي علوى ثمَّ تخفق صاعدة صاعدة حَتَّى تنَال شرف التخلق بأخلاق الصِّفَات الإلهية.[7]
يَقُول الْعَلامَة الكلاباذي وَمن فنَاء الحظوظ حَدِيث عبد الله بن مَسْعُود قَالَ مَا علمت أَن فِي أَصْحَاب رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من يُرِيد الدُّنْيَا حَتَّى قَالَ الله تَعَالَى {مِنْكُم من يُرِيد الدُّنْيَا ومنكم من يُرِيد الْآخِرَة} فَكَانَ عبد الله فِي هَذَا الْمقَام فانيا عَن إِرَادَة الدُّنْيَا.[8]


الطريق الموصل إلى الله
ذكر الإمام القشيري في الرسالة : أول رتبة فِي القرب القرب من طاعته والاتصاف فِي دوام الأوقات بعبادته. وَأَمَّا البعد فَهُوَ التدنس بمخالفته والتجافي عَن طاعته فأول البعد بَعْد عَنِ التوفيق ثُمَّ بَعْد عَنِ التحقيق بَل البعد عَنِ التوفيق هُوَ البعد عَنِ التحقيق قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مخبرا عَنِ الحق سبحانه: مَا تقرب إلي المتقربون بمثل أداء مَا افترضت عَلَيْهِم ولا يزال العبد يتقرب إلي بالنوافل حَتَّى يحبني وأحبه فَإِذَا أحببته كنت لَهُ سمعا وبصرا فبي يبصر وبي يسمع الخير.
فقرب العبد أولا قرب بإيمانه وتصديقه ثُمَّ قرب بإحساسه وتحقيقه وقرب الحق سبحانه. [9]
ومن ذَلِكَ الشريعة والحقيقة.
 الشريعة أمر بالتزام العبودية. والحقيقة مشاهدة الربوية.
 فَكُل شريعة غَيْر مؤيدة بالحقيقة فغير مقبول.
وكل حقيقة غَيْر مقيدة بالشريعة فغير محصول .فالشريعة جاءت بتكليف الخلق والحقيقة إنباء عَن تصريف الحق فالشريعة أَن تعبده والحقيقة أَن تشهده والشريعة قيام بِمَا أمر والحقيقة شهود لما قضى وقدر وأخفى وأظهر.
سمعت الأستاذ أبا عَلِي الدقاق رحمه اللَّه يَقُول: قَوْله {إِيَّاكَ نَعْبُدُ} [الفاتحة: 5] حفظ الشريعة {وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: 5] إقرار بالحقيقة.[10]
والمقام: مَا يتحقق بِهِ العبد بمنازلته من الآداب بِمَا يتوصل إِلَيْهِ بنوع تصرف، ويتحقق بِهِ بضرب تطلب ومقاساة تكلف فمقام كُل أحد موضع إقامته عِنْدَ ذَلِكَ وَمَا هُوَ مشتغل بالرياضة لَهُ وشرطه أَن لا يرتقي من مقام إِلَى مقام آخر مَا لَمْ يستوف أحكام ذَلِكَ المقام فان من لا قناعة لَهُ لا يصح لَهُ التوكل ومن لا توكل لَهُ لا يصح لَهُ التسليم، وَكَذَلِكَ من لا توبة لَهُ لا تصح لَهُ الإنابة ومن لا ورع لَهُ لا يصح لَهُ الزهد، والمقام هُوَ الإقامة كالمدخل بمعنى الإدخال والمخرج بمعنى الإخراج، ولا يصح لأحد منازلة مقام إلا بشهود إقامة اللَّه تَعَالَى إياه بِذَلِكَ المقام ليصح بناء أمره عَلَى قاعدة صحيحة. [11]
والحال عِنْدَ الْقَوْم: معنى يرد عَلَى القلب من غَيْر تعمد مِنْهُم ولا اجتلاب ولا اكتساب لَهُمْ من طرب أَوْ حزن أَوْ بسط أَوْ قبض أَوْ شوق أَوِ انزعاج أَوْ هيبة أَوِ احتياج، فالأحوال مواهب والمقامات مكاسب، والأحوال تأتي من غَيْر الوجود والمقامات تحصل ببذل المجهود وصاحب المقام ممكن فِي مقامه وصاحب الحال مترق عَن حاله.[12] من الأحوال مراقبة وقرب ومحبة وخوف ورجاء وشوق وأنث وطمأننة ومشاهدة ويقين.
ذكر السيد يوسف السيد هاشم الرفاعي في كتابه الصوفية والتصوف في ضوء الكتاب والسنة:
 أما الإمام محيي الدين النووي المتوفى سنة 676 هـ فيقول في رسالته ( المقاصد السبعة في أصول طريق التصوف ) :
وهي خمس . تقوى الله في السر والعلانية . واتباع السنة في الأقوال والأفعال . والإعراض عن الخلق في الإقبال والإدبار . والرضا عن الله تعالى في القليل والكثير . والرجوع إلى الله في السراء والضراء .
( فتحقيق التقوى ) بالورع ، والاستقامة . وتحقيق السنة بالتحفظ ، وحسن الخلق . ( وتحقيق الإعراض ) بالصبر ، والتوكل . ( وتحقيق الرضا ) عن الله بالقناعة والتفويض . ( وتحقيق الرجوع إلى الله تعالى ) بالشكر له في السراء ، واللجوء إليه في الضراء .( وأصول ذلك خمسة ) علو الهمة، وحفظ الحرمة ، وحسن الخدمة ونفوذ العزيمة ، وتعظيم النعمة .
( فمن علت همته ) ارتفعت رتبته . ومن حفظ حرمة الله حفظ الله حرمته . ومن حسنت خدمته وجبت كرامته : ومن نفذت عزيمته دامت هدايته ، ومن عظم النعمة شكرها .
ومن شكرها استوجب المزيد.
( وأصول المعاملات خمسة ) طلب العلم ، للقيام بالأمر . وصحبة المشائخ والأخوان للتبصر . وترك الرخص والتأويلات . للتحفظ . وضبط الأوقات بالأوراد ، للحضور . وأتهام النفس في كل شئ . للخروج عن الهوى . والسلامة من العطب .
( فطلب العلم ) آفته صحبة الأحداث سناً وعقلاً وديناً مما لا يرجع إلى أصل ولا قاعدة ، وآفة الصحبة الأغترار والفضول . وآفة ترك الرخص والتأويلات الشفقة على النفس : وآفة اتهام النفس الأنس بحسن أحوالها وأستقامتها : وقد قال الله تعالى وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا سورة الانعام / 70
( وأصول ما تداوى به علل النفس ) خمسة : تخفيف المعدة بقلة الطعام والشراب واللجأ إلى الله مما يعرض عند عروضه ، والفرار من مواقف ما يخشى الوقوع فيه ، ودوام الاستغفار مع الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بأجتماع الخاطر ، وصحبة من يدلك على الله تعالى .[13]


العبر من أقطاب الصوفية
سأركز بحثي في أخذ العبر من أقطاب الصوفية في أدابهم وأخلاقهم ومعاملاتهم وعقائدهم التي لها أهمية في حياتنا اليوم خاصة في الدعوة إلى الله.
  1. العقيدة
وَقَالَ الجنيد: إِن أول مَا يحتاج إِلَيْهِ العبد من عقد الحكمة معرفة المصنوع صانعه والمحدث كَيْفَ كَانَ إحداثه، فيعرف صفة الخالق من المخلوق، وصفة القديم من المحدث، ويذل لدعوته , ويعترف بوجوب طاعته، فَإِن لَمْ يعرف مالكه لَمْ يعترف بالملك لمن استوجبه.
وسئل الجنيد عَنِ التوحيد فَقَالَ: إفراد الموحد بتحقيق وحدانيته بكمال أحديته أَنَّهُ الْوَاحِد الَّذِي {لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ} [الإخلاص: 3] بنفي الأضداد والأنداد والأشباه بلا تشبيه , ولا تكييف , ولا تصوير , ولا تمثيل {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى: 11] .
وَقَالَ أَبُو الْحَسَنِ البوشنجي رحمه اللَّه: التوحيد أَن تعلم أَنَّهُ غَيْر مشبه للذوات ولا منفي الصفات.[14]
وقول الإمام الجنيد واضح أن أول شيئ لا بد أن يكون في الصوفي والداعي إلى الله صحيح الاعتقاد والعقيدة. وأن يعتقد أن الله وحده يستحق للعبادة وهو خالق ومدبر ورازق ولا شريك له في ذكك كله. ويعبد الله مخلصا له الدين بغير تشبيه الذوات ومنفي الصفات.
ويعرف غاية حياته التي لأجلها خلقت وهي عبادة الله وحده ولايشرك به شيئا. ويعبد الله حسن العبادة. ويجتنب عما يغفله عن العبادة من شهوات الدنيا وكثرة المعاصي والذنوب لأنها تميت القلوب.
 وهذا نأخذ من تاريخ أَبي إِسْحَاق إِبْرَاهِيم بْن أدهم بْن مَنْصُور من كورة بلخ رَضِيَ اللَّهُ تعالي عَنْهُ كَانَ من أبناء الملوك فخرج يوما متصيدا فأثار ثعلبا أَوْ أرنبا وَهُوَ فِي طلبه فهتف بِهِ هاتف: يا إِبْرَاهِيم , ألهذا خلقت أم بِهَذَا أمرت؟ ثُمَّ هتف بِهِ أَيْضًا من قربوس سرجه والله مَا لِهَذَا خلقت ولا بِهَذَا أمرت، فنزل عَن دابته وصادف راعيا لأبيه فأخذ جبة للراعي من صوف ولبسها وأعطاه فرسه وَمَا مَعَهُ، ثُمَّ إنه دَخَلَ البادية ثُمَّ دَخَلَ مَكَّة وصحب بِهَا سُفْيَان الثَّوْرِي والفضيل بْن عياض، ودخل الشام وَمَاتَ بِهَا.[15]
  1.  في الأدب
وأن يحرص الداعي على استخدام الوقت في الخيرات حتى لا يكون فوتا فراغا بلا عمل. كما قال أَبُو زَكَرِيَّا يَحْيَي بْن معاذ الرازي[16]: الفوت أشد من الْمَوْت، لأن الفوت انقطاع عَنِ الحق والموت انقطاع عَنِ الخلق.[17]
وأن يحفظ اللسان ولا يسمع إلا خيرا لأن سماع الباطل يميت القلب كما قال أَحْمَد بْن عَاصِم إِذَا طلبت صلاح قلبك فاستعن عَلَيْهِ بحفظ لسانك. وقَالَ أَبُو مُحَمَّد عَبْد اللَّهِ بْن خبيق[18] : طول الاستماع إِلَى الباطل يطفئ حلاوة الطاعة من القلب.[19]
3.   في الأخلاق
الداعي إلى الله لا بد أن يتزين بالأخلاق الكريمة وعليه ترك المعاصي والذنوب لأنها تميت القلوب التي هي محل الهداية حتى ينور الله قلبه ويهديه إلى سبيل الرشاد. لذلك كان من دعاء إبراهيم بن أدهم [20]: اللَّهُمَّ انقلني من ذل معصيتك إِلَى عز طاعتك.[21]
وأن يجعل رسول الله قدوة ويحبه باتباع ما أمر به وترك ما نهى عنه. وقد قال ذو النون المصري[22]: من علامات المحب لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ متابعة حبيب اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أخلاقه وأفعاله وأوامره وسننه.[23]
وكذلك ما قَصه  بشر بْن الْحَارِث الحافي[24] حيث قال : رأيت النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي المنام , فَقَالَ لي: يا بشر , أتدري لَمْ رفعك اللَّه من بَيْنَ أقرانك؟ قُلْت: لا يا رَسُول اللَّهِ، قَالَ: باتباعك لسنتي , وخدمتك للصالحين , ونصيحتك لإخوانك ومحبتك لأَصْحَابي , وأهل بَيْتِي، وَهُوَ الَّذِي بلغك منازل الأبرار.[25]
وهذا دليل واضح على أن الصوفي الداعي إلى الله من يتبع ويحب النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه وأهل بيته وينصح المؤمنين ويتعاونون فيما بينهم على البر والتقوى.
وأن يكثر الداعي الاستغفار ويتوب إلى الله لأنه ليس معصوما. ويعتقد أن الله يقبل توبة عبده ولو كان الذنب كبيرا كثيرا وأن الله سينجيه من ظلمات الذنوب إلى نور الطاعة. يتجلى واضحا مثل ذلك في قصة توبة الفضيل بن عياض[26] كما كتبه الإمام القشيري في الرسالة : كانَ الفضيل شاطرا يقطع الطريق بَيْنَ أبيورد وسرخس وَكَانَ سبب توبته أَنَّهُ عشق جارية , فبينما هُوَ يرتقى الجدران إِلَيْهَا سمع تاليا يتلو: {أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ} [الحديد: 16] , فَقَالَ: يا رب , قَدْ آن , فرجع فآواه الليل إِلَى خربة , فَإِذَا فِيهَا رفقة , فَقَالَ بَعْضهم: نرتحل، وَقَالَ قوم: حَتَّى نصبح , فَإِن فضيلا عَلَى الطريق يقطع عَلَيْنَا , فتاب الفضيل وأمنهم وجاور الحرم حَتَّى مَات.[27]
ويعتبر الداعي أن الدنيا ليست هي غاية الحياة وإنما هي وسيلة إلى الدار الأخرة الخالدة أبد الأبدين. لذلك وجدنا كثيرا من أقطاب الصوفية لا يهتمون بأمور دنياهم، مقبلين إلى الله بحسن العبادة والمحبة والشوق إلى النظر إلى وجه الله الكريم ولقائه . قَالَ الفضيل: لو أَن الدنيا بحذافيرها عرضت عَلَى ولا أحاسب بِهَا لكنت أتقذرها كَمَا يتقذر أحدكم الجيفة إِذَا مر بِهَا أَن تصيب ثوبه.[28]
  1. في المعاملات
"وَكَانَ إبراهيم بن أدهم يأكل من عمل يده مثل الحصاد وحفظ البساتين وغير ذَلِكَ"[29]
من هذه القصة نأخذ العبرة أن الداعي إلى الله لا بد أن يعمل لسداد ما يحتاج إليه في حياته. ولا يعتمد على إعطاء الأخرين .ولا يجعل الدعوة سبيلا لجمع الثروات يبيع الدين بالدنيا القليلة. وقد مدح الله ورسوله من يعمل لسداد حاجته. قال الله تعالى :
وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ورسوله والمؤمنون"
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "ما أكل أحد طعامًا قط خير من أن يأكل من عمل يده".
ونظر أَبُو تراب يوما إِلَى صوفي من تلامذته قَدْ مد يده عَلَى قشر بطيخ وَقَدْ طوى ثلاثة أَيَّام فَقَالَ لَهُ أَبُو تراب: تمد يدك عَلَى قشر البطيخ أَنْتَ لا يصلح لَك التصوف الزم السوق.[30]
وليس من التصوف ترك الدنيا بتة مقبلا للأخرة ادعاء أنه من الزاهدين. إنما الزهد كما قَالَ الْجُنَيْد الزّهْد خلو الأيدى من الْأَمْلَاك والقلوب من التتبع
و قَالَ على بن أَبى طَالب رضى الله عَنهُ وَسُئِلَ عَن الزّهْد مَا كَانَ فَقَالَ هُوَ أَن لَا تبالى من أكل الدُّنْيَا من مُؤمن أَو كَافِر.[31]
وقد اشتهر من أقطاب الصوفية من يكون غنيا كمثل إبراهيم بن. فالدنيا في يده والأخرة في قلبه . ولا يخرج هذا من دائرة الزاهدين.

المخالفات في التصوف
قال صالح فوزان في مقالته حقيقة الصوفية، ونقل هو من كتاب التصوف المنشأ والمصدر لإحسان إلهي ظهير: قال الشيخ " إحسان إلهي ظهير"  ـ يرحمه الله ـ في كتابه : " التصوف ، المنشأ والمصادر" (*( عندما نتعمق في تعاليم الصوفية الأوائل والأواخر وأقاويلهم المنقولة منهم والمأثورة في كتب الصو فية القديمة والحديثة نفسها نرى بونا شاسعا بينها وبين تعاليم القران والسنة ، وكذلك لا نرى جذورها وبذورها في سيرة سيد الخلق محمد " صلى الله عليه وسلم " وأصحابه الكرام البررة خيار خلق الله وصفوة الكون ، بل بعكس ذلك نراها مأخوذة مقفبسة من الرهبنة المسيحية والبرهمة الهندوكية وتنسك اليهودية وزهد البوذية .
وقال :
للصوفية  خصوصا ـ المتأخرين منهم منهج في الدين والعبادة يخالف منهج السلف ، ويبتعد كثيرا عن الكتاب والسنة . فهم قد بنوا دينهم وعبادتهم على رسوم ورموز واصطلاحات اخترعوها ، وهي تتلخص فيما يلي :
1 ـ  قصرهم العبادة على المحبة ، فهم يبنون عبادتهم لله على جانب المحبة ، ويهملون الجوانب الأخرى ، كجانب الخوف والرجاء ، كما قال بعضهم : أنا لا أعبد الله طمعا في جنته ولا خوفا من ناره ـ ولا شك أن محبة الله ـ تعالى ـ هي الأساس الذي تبنى عليه العبادة.
2. ــ  الصوفية في الغالب لا يرجعون في دينهمة وعبادتهم إلى الكتاب والسنة والاقتداء بالنبي ، " صلى الله عليه وسلم " ، وإنما يرجعون إلى أذواقهم وما يرسمه لهم شيوخهم من الطرق المبتدعة ، والأ ذ كار والأوراد المبتدعة ، وربما يستدلون بالحكايات والمنامات والأحاديث الموضوعة لتصحيح ما هم عليه ، بدلا من الاستدلال بالكتاب والسنة ، هذا ما ينبغي عليه دين الصوفية .
3 ــ  من دين الصوفية التزام أذكار وأوراد يضعها لهم شيوخهم فيتقيدون بها ، ويتعبدون بتلاوتها ، وربما فضلوا تلاوتها على تلاوة القران الكريم ، ويسمونها ذكر الخاصة . زأما الذكر الوارد في الكتاب والسنة فيسمونه ذكر العامة . فقول لا إله إلا الله . عندهم هو ذكر العامة ، وأما ذكر الخاصة : فهو الاسم المفرد :: الله :: وذكر خاصة الخاصة :: هو ::
4. غلو المتصوفة في الأولياء والشيوخ خلاف عقيدة أهل السنة والجماعة. الأولياء عند الصوفية فلهم اعتبارات ومواصفات أخرى ، فهم يمنحون الولاية لأشخاص معينين من غير دليل من الشارع على ولايتهم ، وربما منحو الولاية لمن لم يعرف بإيمان ولا تقوى ، بل قد يعرف بضد ذلك من الشعوذة والسحر واستحلال المحرمات ، وربما فضلوا من يدعون لهم الولاية
على الأنبياء ، صلوات الله عليهم وسلامه عليهم.
5. من دين الصوفية الباطل تقربهم إلى الله بالغناء والرقص ، وضرب الدفوف والتصفيق . ويعتبرون هذا عبادة لله .
6. ومن دين الصوفية الباطل ما يسمونه بالأحوال التي تنتهي بصاحبها إلى الخروج عن التكاليف الشرعية نتيجة لتطور التصوف.
هذا ما كتبه صالح فوزان في حقيقة التصوف . أقول أن هذا ليس بصحيح كله بل هو يبالغ  في تضليل التصوف عاما ولا يفرق بين من على طريق الحق ومن على طريق الباطل ويظن أنهم لا يستندون في أقوالهم وأفعالهم على الكتاب والسنة . سنحلل واحد تلو واحد حتى يتبن لنا الحق.
أما قوله "قصرهم العبادة على المحبة" هذا ليس بصحيح، لأن في التصوف المقامات والأحوال التي هي الطريق للتقرب إلى الله وكلها مستند من القران والسنة كما بين ذلك الإمام الغزالي في كتابه إحياء علوم الدين بيانا كافيا . والمحبة من ضمنها وليست هي الطريق الوحيد.
 لذلك لو أمعنا النظر في مناجاة رابعة العدوية لربها  إذ كانت تقول له :
(اللهمم إني ما عبدتكك حين عبدتك طمعا في جنتك ولا خوفا من نارك ولكني علمت أنك رب تستحق العبادة فعبدتك.)  سندرك سمو مشاعر التوحيد فيها. فرابعة كانت تسأل الله الجنة وتستعيذ به من النار، وكم كانت في الكثير من مناجاتها تتخوف من عقابه الذي ترى   نفسها معرضة له، وكم كانت تتشوق إلى إكرامه وجنة قربه، ولكنها لم تكن تطلب ذلك أجرا على عبادتها، وقيمة لصلاتها ونسكها. وإنما كانت تسأله ذلك لأنه الغني الكريم ولأنها الفقيرة الراغبة بجوده. أما طاعتها وعبادتها فقد كانت تتقرب بها إلى الله لأنه ربها ولأنها أمته. إنها مدينة بحق العبودية له، ومن ثم فإن عبوديتها تلح عليها أن تعبده وأن تخضع لسلطان ربوبيته، ولا شيء إلا لأنها أمته ولأنه ربها. وسواء أأكرمها بنعيم جنته أو زجها في أليم عذابه, فلن تنقص معه ميثاق هذا الالتزام. وكيف تنقصه وهي في كل الأحوال صنع يده وملك ذاته؟[1]
أما قوله ــ  الصوفية في الغالب لا يرجعون في دينهمة وعبادتهم إلى الكتاب والسنة والاقتداء بالنبي ، " صلى الله عليه وسلم". نجيب بما قاله الجنيد حين سُئِلَ عَن التصوف فَقَالَ تصفية الْقلب عَن مُوَافقَة الْبَريَّة ومفارقة الْأَخْلَاق الطبيعية وإخماد الصِّفَات البشرية ومجانبة الدَّوَاعِي النفسانية ومنازلة الصِّفَات الروحانية والتعلق بالعلوم الْحَقِيقِيَّة وَاسْتِعْمَال مَا هُوَ أولى على الأبدية والنصح لجَمِيع الْأمة وَالْوَفَاء لله على الْحَقِيقَة وَاتِّبَاع الرَّسُول صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فِي الشَّرِيعَة.[2]
هذا القول يتضح أن كل عمل في التصوف لا بد أن يستند من القرأن أو السنة أو اتباع العلماء، وإن خالف ما في الشريعة فلا اعتبار فيه، لأنه باطل وبدعة. وأكد ذلك ما قاله الإمام القشيري في الرسالة [3]:
"فِي بيان اعتقاد هذه الطائفة فِي مسائل الأصول اعلموا رحمكم اللَّه أَن شيوخ هذه الطائفة بنوا قواعد أمرهم عَلَى أصول صحيحة فِي التوحيد صانوا بِهَا عقائدهم عَنِ البدع , ودانوا بِمَا وجدوا عَلَيْهِ السلف وأهل السنة من توحيد لَيْسَ فِيهِ تمثيل ولا تعطيل وعرفوا مَا هُوَ حق القدم، وتحققوا بِمَا هُوَ نعت الموجود عَنِ العدم"[4]
وكذلك الحكم الذي كتبه ابن عطاء الله, كل حكمة تستند من القرأن والسنة ولا يخرج من كليهما كما ذكر ذلك الشيخ سعيد رمضان في شرح الحكم. وابن عطاء الله من أئمة الطريقة الشاذلية. وهو معاصر ابن تيمية. لو استند قوله من هواه  لا من القران والسنة لما احترمه ابن تيمية لأنه معترف بعلمه.
أما بنسبة وحدة الوجود فقد ذكره السيد يوسف هاشم الرفاعي في كتابه  وبينه بيانا كافيا :
"وحدة الوجود المشار إليها عند الصوفية المسلمين مغايرة لقول الفلاسفة ووحدتهم الفكرية التي لا تفرق بين الخالق والمخلوق والصنعة والصانع فأي كفر أعظم من هذا وأي نقص ينسب إلى الله أعظم من ذلك ؟ تعالى الله عن ذلك علواً كبيرا ، والصوفية أهل الحق براء من ذلك .
فوحدةالوجود التي يرمز إليها بعض الصوفية أمر معنوي وعلم رباني يتعلق بتحقيق الوحدانية لله في ذاته وصفاته وأفعاله عرفوا ذلك وتحققوا فيه بنور رباني وقد قيل فيه ( أتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله ) ، وعرفوا ذلك أيضاً بتحققهم بالتبعية المحمدية حيث قال الله لنبيه في كتابه :
" قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنْ اتَّبَعَنِي "
... الآية فالبصيرة المشار إليها هي الؤية القلبية والمشاهدة الباطنية لحقائق الأمور وبواطن الأشياء فيكتسب صاحبها علماً لا مطمع للحصول عليه بالفكر أو بالعقل أو النظرة الحسية ،فنظر رحمك الله إلى قوله تعالى لنبيه :
" عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنْ اتَّبَعَنِي "
... الآية فليس هذا النور وتلك المشاهدة القلبية خاصة بالنبي - صلَّى الله عليه و سلَّم - وآله ولكن يشاركه في هذا المشرب من اتبعه بحق وهم خواص أمته فمن لم يتحقق بتلك التبعية المحمدية في الأقوال والأفعال والأحوال ، أو قل في ( الإسلام والإيمان والإحسان ) أو قل في (عمل الظواهر من الوقوف عند الحدود ، وفي عمل البواطن من التوكل والرضا والتعلق بالمعبود ، وفي عمل السرائر من الأذواق والمعارف والتحقق بأسرار الوجود ) وإلا فلا مطمع له بالوصول إلى مراتب الكمال ومقامات الرجال لأنه مقيد بالوهم والخيال وبالنفس الأمارة التي تتغطرس وتتكبر فتظن أنها تخرق الأرض وتبلغ الجبال طولاً وما هؤلاء بالنسبة للرجال الكمل من ذوي المعارف والأسرار إلا بمنزلة الصبيان .
فليس المراد بوحدة الوجود عند هؤلاء الصوفية وجودين قديمين اتحدا ولا قديم وحادث اتحدا تعالى الله عن ذلك فإنه سبحانه لا يحل في شئولا يمازج شيئاً ولا شئ في ذاته في خلقه ولا من خلقه في ذاته ، وقربه وبعده ليس كقرب الأجسام وبعدها، ولا هو محصور ولا محدود ولا يحمله شئ ولا هو حامل لشيء استوى على عرشه بذاته استواء يليق به ، مطلق في ذاته وصفاته وأفعاله لا تقوم صفاته إلا بذاته ولا تفارق ذاته صفاته تنزه عن أوصاف خلقه قال تعالى :" لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ "
وكل من يتكلم في التصوف من غير أن يتذوقه ويتحققه وينصب نفسه قاضياً وحاكماً قاسياً على أولياء الله من رجال التصوف الإسلامي ويصدر حكمه فيهم بما عنده من الجهل بحقائقهم ويؤول كلامهم الذي لا يفهم معناه على مراده هو ، لا على مرادهم هم إنما ذلك لخبث في طويته أو جهل مركب أو هما معاً فلا يؤخذ بقوله في شأن الصوفية والتصوف الإسلامي لأنه جاهل بذلك إذ ليس من اختصاصه .
فقد قال أحد الصالحين ( إن كل من يتكلم في التصوف أو يحكم عليه من غير أن يعرف حقائقه ويتذوق معانيه إنما هو جاهل بالتصوف والصوفية فمثله كمن رأى جرة مملؤة مغلقة ورأى النحل يحوم حولها فحكم على ما في باطنها من تحويم النحل عليها من غير أن يتحقق بما فيها ) .[5]
فأنالا أنكر أن الصوفية منهم الغث السمين فمنهم المتحقق ومنهم المتبرك ومنهم المتلبس المتزندق . قال تعالى :
" هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ "
وعلى كل حال فالحجة قائمة وهي في الكتاب والسنة ، فمن ادعى أنه صوفي متحقق وخالف الكتاب والسنة في أقواله وأفعاله فمرفوض ادعاؤه ومردود قوله وما أكثر هذا الصنف بين صفوف المسلمين أعاذنا الله والمسلمين من شرهم .
والخلاصة أن كل أقوال وأفعال في التصوف التي يوافق ويستند إلى القرأن والسنة نعتبرها, وإلا فلا اعتبار فيها.
خلاصة أهمية التصوف في الدعوة
والتصوف الإسلامي هو الدين الخالص والنية الخالصة لله التي قامت على مبدأ تحقيق العبودية وتعظيم الربوبية وتحقيق عمارة البواطن بالمعارف والأسرار والرضا والتوكل والإخلاص وعمارة الظواهر بالعبادة والورع والتقوى ومتابعة النبي - صلَّى الله عليه و آله و سلَّم - وآله في أقواله وأفعاله . وهذا ما كان عليه النبي - صلَّى الله عليه و آله و سلَّم - وآله وأصحابه من التحقق بالدين ظاهراً وباطناً ، ورسوخاً في مراتب الدين الثلاث ( الإسلام والإيمان والإحسان ) الواردة في الحديث الصحيح الذي يرويه عمر بن الخطاب.
والحق أن التصوف تفسير ( لمقام الإحسان ) الذي هو ( مقام الشهود والعيان ) ولا مشاحة في المصطلحات وإنما العبرة للحقيقة والجوهر ، فإذا كان إصلاح الظاهر واجباً فإصلاح الباطن أوجب لأنه موضع نظر الله عز وجل ، وإذا كان إصلاح باطن العبد وسريرته وقلبه جوهر الدين فذلك هو التصوف ، ولا يزيد أبداً عن كونه إصلاحاً للقلوب .
وما الصوفية إلا قوم جاهدوا أنفسهم في الله فهداهم الله
"وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ " سورة العنكبوت /69.
" سبحان ربك رب العزة عما يصفون ، وسلام علي المرسلين والحمد لله رب العالمين " .
وصلي الله وسلم وبارك علي سيدنا محمد سيد الأولين والآخرين وعلي آله وصحبه وأصفياء الله أجمعين .
,,, والله ولي النعمة والتوفيق ,,,


[1] محمد سعيد رمضان البوطي، شرح وتحليل الحكم العطائية،دار الفكر ، دمشق. ص 38  
[2] التعرف لمذهب أهل التصوف ، أبو بكر محمد بن أبي إسحاق بن إبراهيم بن يعقوب الكلاباذي البخاري الحنفي، دار الكتب العلمية – بيروت، ص : 25

[3] وكذلك هذا جواب للدعوى في رقم 4،5،6
[4] الرسالة القشيرية ، عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك القشيري, دار المعارف، القاهرة ص 24
[5]  الصفية والتصوف في ضوء الكتاب والسنة،: السيد يوسف السيد هاشم الرفاعي ، دار الإيمان الكويت ص 9
 



[1] التعرف لمذهب أهل التصوف ، أبو بكر محمد بن أبي إسحاق بن إبراهيم بن يعقوب الكلاباذي البخاري الحنفي، دار الكتب العلمية – بيروت، ص : 25
[2] الرسالة القشيرية ، عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك القشيري, دار المعارف، القاهرة ص 34  .

[3] أَبُو القاسم الجنيد بْن مُحَمَّد: سيد هذه الطائفة وإمامهم اصله من نهاوند ومنشؤه ومولده بالعراق وأبوه كَانَ يبيع الزجاج
فلذلك يقال لَهُ القواريري، وَكَانَ فقيها عَلَى مذهب أَبِي ثور وَكَانَ يفتي فِي حلقته بحضرته وَهُوَ ابْن عشرين سنة، صحب خاله السرى والحارث المحاسبي ومحمد بْن عَلِيّ القصاب، مَات سنة سبع وتسعين ومائتين.

[4] الرسالة القشيرية ، عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك القشيري, دار المعارف، القاهرة ص 79 
[5]
[6] الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله صلى الله عليه وسلم وسننه وأيامه = صحيح البخاري: محمد بن إسماعيل أبو عبدالله البخاري الجعفي, دار طوق النجاة، الطبعة: الأولى، 1422هـ. ( كتاب الرقاق باب التواضع ج 8 ، ص 105 ، رقم 6502)

                                                                                      
[7] التعرف لمذهب أهل التصوف ، أبو بكر محمد بن أبي إسحاق بن إبراهيم بن يعقوب الكلاباذي البخاري الحنفي، دار الكتب العلمية – بيروت، ص : 5

[8] نفس المرجع
[9] الرسالة القشيرية ، عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك القشيري, دار المعارف، القاهرة ص 192

[10] 192 نفس المرجع
[11] نفس المرجع 153
[12] نفس المرجع 154
[13] الصفية والتصوف في ضوء الكتاب والسنة،: السيد يوسف السيد هاشم الرفاعي ، دار الإيمان الكويت ص 21
[14] نفس المرجع ص 21
[15] نفس المرجع ص 35
[16] أَبُو زَكَرِيَّا يَحْيَي بْن معاذ الرازي الواعظ نسيج وحده فِي وقته، لَهُ لسان فِي الرجاء خصوصا وكلام فِي المعرفة، خرج إِلَى بلخ وأقام بِهَا مدة ورجع إِلَى نيسابور، وَمَاتَ بِهَا سنة ثمان وخمسين ومائتين.

[17] نفس المرجع ص 65
[18] عَبْد اللَّهِ بْن خبيق من زهاد المتصوفة صحب يُوسُف بْن أسباط كَانَ كوفي الأصل ولكنه سكن أنطاكية.

[19] نفس المرجع ص 72
[21] نفس المرجع ص 36
[22] اسمه ثوبان بْن إِبْرَاهِيم , وقيل: الفيض بْن إِبْرَاهِيم وأبوه كَانَ نوبيا توفى سنة خمس وأربعين ومائتين فائق هَذَا الشأن وأوحد وقته علما وورعا وحالا وأدبا
[23] نفس المرجع ص 38
[24] أصله من مرو وسكن بغداد وَمَاتَ بِهَا وَهُوَ ابْن أخت عَلِي بْن خشرم، مَات سنة سبع وعشرين ومائتين وَكَانَ كبير الشأن
[25] نفس المرجع ص48
[26] إنه ولد بسمرقند ونشأ بأبيورد مَات بمكة فِي المحرم سنة سبع وثمانين ومائة.

[27] نفس المرجع ص 40
[28] نفس المرجع ص41

[29] نفس المرجع ص 35
[30] نفس المرجع ص 70
[31] التعرف لمذهب أهل التصوف ، أبو بكر محمد بن أبي إسحاق بن إبراهيم بن يعقوب الكلاباذي البخاري الحنفي، دار الكتب العلمية – بيروت، ص : 94

Powered By Blogger