Sabtu, 01 November 2014

Nikmatnya Pacaran



Nikmatnya Pacaran...
Kata pacaran berasal dari kata pacar, seperti disebutkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, terdapat dua makna, pertama, teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih, atau juga disebut kekasih, dan yang kedua  tumbuhan kecil yg daunnya biasa dipakai untuk pemerah kuku; batang inai.[1] Di kalangan masyarakat kita saat ini, mungkin kata pacar sudah tidak asing lagi bagi tiap orang, baik kecil, remaja, dewasa atau bahkan orang tua. Pacar adalah kekasih, dan pacaran adalah aktivitasnya. So...nikmatkah pacaran itu?!
Kalau kita flashback ke tempo doeloe, orang pertama yang memadu kasih adalah Nabi Adam AS dan Sayyida Hawa. Bahkan lebih nikmat lagi, mereka berdua menikmati rasa cinta dan kasih itu di syurga hingga akhirnya syaitan mampu menggodanya dengan buah khuldi yang terlarang. Karena terperangkap godaan tersebut, Nabi Adam dan Sayyida Hawa’ dikeluarkan dari syurga dan diturunkan ke dunia. Dan inilah takdir Allah, hingga dunia dimakmurkan oleh bani Adam dan Hawa, atau yang disebut manusia.
Ternyata tidak berhenti disini, meskipun telah berhasil menggoda Adam hingga akhirnya dikeluarkan dari syurga, sang Iblis dan pasukannya para syaitan akan terus mengoda keturunannya dari ketaatan kepada Allah hingga sampai akhir zaman.[2] Ya, para syaithan terus menerus menabuh genderang perang untuk menggoda manusia agar mengikuti langkah-langkahnya dan bermaksiat kepada Allah. Karenanya, Allah mengingatkan manusia dengan firmanNya:
ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين
“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, sungguh ia bagi kalian adalah musuh yang nyata”.
Apa hubungannya dengan pacaran?! Agama Islam adalah agama Allah, agama rahmatan lil alamin, sistem hidup dari Allah Maha Pencipta untuk ciptaanNya; manusia, jin, dan semua alam raya agar semuanya hidup dalam keteraturan, karena Allah Maha mengatahui tentang ciptaanNya. Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah kepada Allah saja (hablun min Allah) tetapi juga mengatur hubungan antara sesama manusia (hablun min an-nas). Diantaranya adalah hubungan antara lawan jenis; laki-laki dan perempuan, tak luput dari aturan Allah.
Pada dasarnya rasa cinta terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia. Laki-laki mencintai wanita dan wanita mencintai laki-laki. Tetapi cinta itu tidak hanya sebatas ucapan lisan, rayuan dan pujian, atau sebungkus coklat atau es cream dan rasa perhatian. Sekali lagi, TIDAK!!!. Tetapi cinta itu butuh bukti konkrit, sebagaimana pepatah arab, al-muhib liman yuhabbu muthi’u, orang yang cinta kepada orang yang dicintai pasti taat. Lebih dari itu, cinta yang berbuah syurga itu harus dilandasi karena iman bukan nafsu, cinta karena Allah bukan cinta karena syaithan.
Seperti kisah seorang ahli ibadah yang digoda syaithan, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya,  Ali Bin Abi Thalib menceritakan, bahwa pernah ada rahib yang rajin beribadah selama enam puluh tahun, dan syaithan ingin mengujinya, kemudian syaithan mendatangi seorang perempuan dan menjadikannya gila, dan wanita tersebut memiliki saudara2. Syaitan lalu berkata kepada saudaranya, pergilah ke rahib, dia bisa mengobatinya. Datanglah mereka dengan saudarinya kepada rahib agar diobati, maka wanita tersebut pun menginap di tempatnya. Maka pada suatu hari, (karena godaan syaithan) ia pun menyukainya, dan melakukan perzinaan dengannya, sampai hamil, dan (terus digoda syaithan) sampai akhirnya ia membunuh wanita tersebut. Maka ketika saudara-saudara wanita itu mendatangi rahib, untuk diadili, syaithan mendatangi rahib, seraya mengatakan kepadanya, “akulah temanmu, taatilah aku, maka aku akan menyelamatkanmu dari keadaan ini, oleh karena itu, sujudlah kepadaku. Akhirnya, ia pun bersujud kepada syaithan, maka ketika ia bersujud, syaithan berkata, : “Sunnguh aku berlepas dari apa yang kamu lakukan (syirik kepada Allah), karena sesungguhnya aku takut kepada Allah”. [3]  
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلإنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“Seperti (bujukan) shaitan ketika Dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", Maka tatkala manusia itu telah kafir, Maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam". (QS. Al-Hasyr: 16)
Seperti itulah syaitan menggoda, dari nabi Adam hingga keturunannya. Ia takkan pernah berhenti, sampai manusia menjadi temannya di neraka kelak. Itulah secuil kisah cinta yang dilandasi karena nafsu dan syaithan, cinta yang akan berujung kepada kehinaan, dan kemurkaan, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat, na’udzu billah min dzalik. Apalah arti pacaran kalau membawa kemurkaan Allah, bagaimana mungkin menikmati pacaran kalau neraka dengan malaikat penjaganya telah bersiap menyiksa. Oleh karenanya, Islam memberi solusi yang lebih baik dari itu semua yaitu boleh pacaran asal sudah menikah, bukan pacaran sebelum menikah. Sebab, kalau sebelum menikah itu berarti mendekati zina, dan itu dilarang di dalam Islam, sebagaimana firman Allah
ولا تقربوا الزنى إنه كان فاحشة وساء سبيلا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Kalau sebelum menikah segala aktivitas yang dilakukan diantara dua orang yang berpacaran adalah dosa. Pandangannya dosa, bicaranya dosa, sentuhannya dosa, apalagi kalau sampai terjadi zina, na’udzu billah min dzalik, intinya semua aktivitas itu berada dalam kubangan dosa. Sekali lagi, inilah langkah-langkah syaithan dalam menggoda keturunan Nabi Adam, mulai dari pandangan, berlanjut ke obrolan, terus saling berjabat tangan dan bersentuhan hingga terjadi zina. Oleh karenanya, Allah mengingatkan dalam surat An-Nur:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُون
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya”. (QS. An-Nur 30-31)
Inilah perintah Allah agar setiap muslim dan muslimah menjaga pandangannya dari lawan jenisnya. Ditegaskan lagi oleh sabda Rasulullah saw,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إن النظر سهم من سهام إبليس مسموم، من تركه مخافتي، أبدلته إيمانا يجد حلاوته في قلبه"قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إن النظر سهم من سهام إبليس مسموم، من تركه مخافتي، أبدلته إيمانا يجد حلاوته في قلبه"
“Sesungguhnya pandangan adalah anak panah dari anak panah2 iblis yang beracun, maka orang yang bisa meninggalkannya (menundukkan pandangannya) karena takut kepada-Ku (Allah), maka Aku akan menggantikannya dengan keimanan yang akan ia rasakan kemanisannya di dalam hatinya”.[4] (Al-Hadits)
Ingatlah, setiap pandangan manusia, Allah maha melihat, bahkan sekecil apapun itu tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah.
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ(الغافر: 19)   
“Allah mengetahui setiap mata yang berkhianat dan mengetahui apa yang disembunyikan oleh hati”. (QS. Al-Ghafir: 19) 
Juga Rasulullah saw bersabda, “Lebih baik dipukul dengan jarum besi di atas kepala daripada menyentuh wanita yang bukan mahram”.     
Inilah kenikmatan sesaat pacaran sebelum menikah, mungkin diawal  memandang sangat indah, tetapi berakhir siksa Allah, atau disaat menyentuh terasa nikmat, tapi para malaikat tidak pernah lupa mencatat dosa itu dan membalasnya dengan siksa kelak di akhirat. Tetapi hal tersebut ternyata tidak berlaku bagi orang yang berpacaran setelah menikah, justru setiap aktivitas cinta mereka adalah ibadah, senyumnya di depan pasangan adalah ibadah, ciuman, sentuhan bahkan berhubungan antara suami istri menjadi ibadah dan shadaqah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
وفي بضع أحدكم صدقة
“dan hubungan suami istri itu shadaqah”. (al-Hadits)
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (ما استفاد المؤمن - بعد تقوى الله عز وجل - خيرا له من زوجة صالحة: إن أمرها أطاعته، وإن نظر إليها سرته، وإن أقسم عليها أبرته، وإن غاب عنها نصحته في نفسها وماله).رواه ابن ماجه.
“Tidak ada yang bermanfaat bagi seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik baginya selain dari isri yang shalihah, jika diperintah Ia taat, jika dipandang menyenangkan, jika disumpah ia membebaskannya, dan jika ditinggal pergi ia menjaga harga diri dan hartanya”. HR. Ibnu Majah
Adakah nikmat selain ini? Perpaduan  cinta dan kasih yang berhiaskan iman dan takwa, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan??
Tidak hanya itu, pacaran setelah menikah itu lebih menenangkan dan membahagiakan, karena tidak ada lagi dosa, yang ada hanyalah ibadah, ibadah dan ibadah. Lebih tenang karena setiap pasangan telah diikat janji suci akad nikah mitsaqan ghalidan, tanggung jawab penuh atas apa yang akan terjadi dalam kehidupan keduanya, keduanya saling percaya karena itu merupakan amanah yang harus dijaga dengan cinta, dan kasih sayang. Tak sekedar rayuan gombal, perhatian sesaat atau sebungkus coklat atau es cream, demi menerkam kehormatan dan harga diri, tetapi tanggung jawab seumur hidup, suka duka, susah senang, bersama merasakan. Karenanya, jaminan Allah akan menumbuhkan cinta dan kasing sayang hanya teruntuk mereka yang memadu cinta dan kasih setelah menikah bukan sebelum menikah. Sebagaimana firman Allah:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُواْ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya Allah menciptakan bagi kalian dari diri kalian pasangan-pasangan, agar kalian merasa tenang kepadanya, dan Dia menjadikan diantara kalian cinta dan kasih sayang”.
Inilah taman orang yang bercinta dan memadu kasih karena iman dan takwa, inilah kenikmatan hakiki sebuah pacaran, pacaran setelah menikah, pacaran ibadah, dan inilah nikmatnya pacaran. Allahu a’lam bis shawab, wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammad  
SEMOGA BERMANFAAT
Al-faqir ila ‘afwi Rabbihi Dzulkifli Amnan al-Syarafani al-Qudsyi
Ma’had UIA Jakarta, Ahad, 2 November 2014, 05:12


[1] KBBI offline 1.3
[2] Lihat surat al-a’raf 11-27
[3] Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin katsir al-Qursy al-Damasyqi (W.700-774), Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Mesir: Dar Thayyibah  li al-Natsr wa al-Tauzi’,cet. 2, 1999. H. 8/75
[4] Al-mu’jam al-kabir, no. 10/214

Kamis, 30 Oktober 2014

Muharram; Sejarah, Ibrah dan Amal

MUHARRAM; SEJARAH, IBRAH DAN AMAL
Bulan Muharram adalah bulan yang mulia. Ia disebut Muharram karena diharamkan terjadinya perang di bulan tersebut.[1]Terlebih bulan Muharram banyak merekam peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah peradaban manusia. Seperti yang disampaikan oleh syaikh nawawi al-bantani al-makki, ia meriwayatkan dari para ulama, bahwa di bulan Muharram inilah Nabi Adam AS diciptakan di syurga, diterima taubatnya, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS di bukit Judi, terbelahnya laut merah dengan mukjizat Nabi Musa AS, ditenggelamkannya fir’aun di laut merah, keluarnya Nabi Yunus dari perut hiu, dan juga keluarnya Nabi Yusuf dari sumur yang gelap, diterimanya taubat kaum Nabi Yunus, dikembalikannya penglihatan Nabi Ya’qub AS, disembuhkannya penyakit Nabi Ayyub, dan Allah mengampuni Nabi Dawud AS.[2]
Sebagaimana diriwayatkan di dalam shahih Imam Bukhari dan shahih Imam Muslim, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw ketika telah sampai di Madinah, ia melihat orang-orang yahudi sedang berpuasa seraya berkata, “Ini adalah hari yang agung karena pada hari itu Allah telah menyelamatkan musa beserta kamunya dan menenggelamkan fir’aun beserta pasukannya. Karenanya nabi Musa berpuasa sebagai bentuk rasa syukur, dan kami pun berpuasa. Berkata Rasulullah saw, : “maka kami lebih berhak dan lebih utama mengikuti nabi Musa daripada kalian. Kemudian ia pun berpuasa, dan memerintahkan puasa.
Begitu juga diriwayatkan di dalam shahih bukhari dan Shahih Muslim, hadis Salamah bin al-Akwa’ bahwa Rasulullah saw menyuruh seseorang dari bani Aslam agar mengumumkannya, bagi orang yang sudah makan hendaklah ia berpuasa di sisa harinya, dan bagi orang yang belum makan hendaklah berpuasa, karena hari ini adalah hari Asyura’. [3]
Selain peristiwa tersebut, di bulan Muharram terdapat peristiwa yang sangat monumental yang takkan terlupakan dalam sejarah umat Islam; sejarah yang mampu membalikkan keadaan peradaban manusia dari jahiliyah kepada peradaban yang rahmatan lil alamin, yaitu hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah.
Hijrah Rasulullah saw bukanlah sekadar perjalanan biasa, tetapi hijrah adalah perjalanan keimanan, pengorbanan dan kesabaran. Hijrah adalah titik tolak perubahan dalam membangun masyarakat yang beradab, berpendidikan dan bervisi ke depan untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah, sesampainya di Madinah, ia membangun peradaban yang jauh lebih modern dari zamannya, peradaban yang memartabatkan dan meninggikan derajat manusia, peradaban yang membebaskan manusia dari setiap belenggu perbudakan sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah swt; dzat pencipta dan penguasa alam semesta.
Bercermin dari hijrah Rasulullah saw, terdapat banyak pelajaran yang bisa diaplikasikan untuk realita sekarang, diantaranya: 

1).Menjaga Keimanan
Ketika di Makkah, Rasulullah saw diperintahkan untuk mengajak manusia agar beriman kepada Allah swt. Mulai dari keluarga, saudara dan masyarakat pada umumnya. Sehingga sebagian masyarakat Makkah pada saat itu beriman kepada Allah dan agama yang dibawa Rasulullah saw tetapi tidak sedikit orang yang menentang dakwanya. Karenanya, untuk menghentikan dakwah tersebut, mereka tidak segan-segan menyiksa orang yang beriman baik dengan perkataan atau bahkan dengan siksaan fisik hingga meninggal supaya mereka kembali ke agama berhala dan meninggalkan agama Islam. Bahkan Rasulullah pun tidak luput dari siksaan tersebut. Oleh karena itu, ketika ada momentum utuk menyelamatkan keimanan para sahabat, Rasulullah saw memerintahkan mereka agar berhijrah; di mulai dengan hijrah ke habasyah (hijrah pertama), dan dilanjutkan dengan hijrah ke Madinah. Hingga tidak ada lagi umat Islam yang tinggal di Makkah setelah perintah hijrah tersebut; untuk menjaga dan menyelamatkan keimanan.
Inilah pelajaran yang sangat berharga untuk individu muslim, keluarga muslim dan masyaraka muslim saat ini. Karena keimanan itu mahal, bahkan lebih mahal dari dunia dan seisinya, lebih mahal dari emas, perak dan permata, dan lebih mahal dari hanya sekadar jabatan dan tahta. Karenanya, keimanan harus dijaga. Mahalnya keimanan dijelaskan Allah swt dalam firman sucinya, :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun Dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imran: 91)
Dalam ayat lain, Allah memerintahkan agar setiap mukmin menjaga keimanan diri, dan keluarganya agar terhindar dari api neraka. Firman Allah swt :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.(QS. Attahrim: 6)
Mengenai ayat ini, Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Makki dalam tafsirnya Mirah Labid mengatakan, ajarkanlah kebaikan (Islam) kepada diri, istri dan anak-anak kalian, dan tanamkanlah akhlak mulia yaitu dengan menyuruh mereka melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan, dengan begitu berarti kamu menjaga mereka dari api neraka. [4]
Begitu juga, menjaga keimanan merupakan wasiat terakhir Nabi Ibrahim AS kepada anak keturunannya. Sebagiamana hal ini diabadikan di dalam al-Qur’an, :
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Nabi Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Nabi Ya'qub. (Nabi Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. Al-baqarah : 132)
Karenanya, setiap muslim patut untuk mencontoh mereka untuk senantiasa menjaga keimanan yang telah Allah berikan kepada diri dan keluarganya dengan terus istiqamah dalam mentaati Allah swt sehingga mendapat kebahagian dunia dan akhirat serta terhindar dari api neraka. 

2. Pengorbanan
Hijrah mengajarkan bahwa setiap perjuangan dalam rangka ketaatan kepada Allah, menolong agama Allah membutuhkan pengorbanan baik waktu, pikiran, harta bahkan jiwa sekalipun. Para sahabat ketika hijrah dalam rangka menyelamatkan keimanan dan melaksanakan perintah Allah dan Rasulnya, mereka rela mengorbankan harta mereka; rumah, perhiasan dan seluruh yang mereka miliki agar mampu hijrah ke Madinah. Mereka rela meninggalkan itu semua, karena mereka sangat yakin dengan janji Allah, bahwa pengorbanan fi sabilillah tidak akan sia-sia, karena Allah akan memberi pahala dan ganti yang lebih baik di dunia dan di akhirat. Sebagaimana janji Allah dalam al-Qur’an, :
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-anfal: 74)
Dan adakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah swt?!

3). Menjadi Lebih Baik
Hijrah adalah titik tolak perubahan. Perubahan menjadi lebih baik. Sebagaimana Rasulullah saw, dengan hijrah ia mampu membangun peradaban yang agung, dan menyebarkan dakwah Islam hingga mampu berlanjut ke seluruh penjuru dunia. Hijrah adalah bergerak, mendobrak ke stagnanan hidup menjadi lebih dinamis dan maju. Karena itulah Imam syafi’i dalam sya’irnya mengatakan:
ما في المقام لذي عقل وذي أدب        من راحة فدع الأوطان واغترب
سافر تجد عوضا عمن تفارقه       وانصب فإن لذيذ العيش في النصب
إني رأيت وقوف الماء يفسده       إن ساح طاب وإن لم يجر لم يطب
والأسد لولا فراق الأرض ما افترست  والسهم لولا فراق القوس لم يصب
والشمس لو وقفت في الفلك دائمة      لملها الناس من عجم ومن عرب
Tidak layak bagi orang yang berakal dan beradab untuk diam menetap, tapi tinggalkanlah negeri dan berkelanalah
Bersafarlah, kamu akan menemukan pengganti orang yang kamu tinggalkan, dan bekerjalah, karena kelezatan hidup dengan bekerja
Pendapatku bahwa diamnya air bisa merusaknya, jika ia mengalir ia akan jernih, tapi jika tidak maka menjadi keruh.
Seekor singa jika tidak meninggalkan tempatnya, maka ia tidak mendapat mangsa, juga anak panah jika tidak dilepas dari busurnya, ia tidak akan mengena
Matahari seandainya ia berhenti di jagat raya, niscaya orang arab dan ajam akan merasa jenuh.[5]
Oleh karenanya, setiap muslim dituntut untuk berhijrah menjadi lebih baik. Hijrah dari kemaksiatan kepada ketaatan, hijrah dari kebodohan kepada pendidikan, hijrah dari kemiskinan kepada kesejahteraan. Intinya hijrah untuk menjadi lebih baik. Dan inilah yang menjadi syiar setiap muslim, “hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini”.

4). Puasa Tasu’a dan Asyura
Sebagaimana di depan telah dijelaskan sejarah puasa Asyura, bahwa Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk berpuasa Asyura; hari ke-sepuluh bulan Muharram, dan juga hari ke-sembilannya tasu’a. Hal ini disebutkan Imam Nawawi Al-Damasyqi dalam kitabnya Riyadl Al-Shalihin[6],
 أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ : (( يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ )) رواه مسلم .
وقال : ( لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ )) رواه مسلم .

Rasulullah saw pernah ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, ia menjawab, : “puasa Asyura menghapus dosa satu tahun yang lalu”. HR. Imam Muslim
Dan juga sabdanya, : “jika aku masih hidup sampai tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilannya (tasu’a)”. HR. Imam Muslim
Betapa besarnya pahala puasa Asyura dan tasu’a, seyogyanya setiap muslim untuk memperhatikan tangggal tersebut dan mengikuti sunnah Rasulullah saw dengan berpuasa di dua hari tersebut. Selain puasa, ada amalan lain yang dianjurkan untuk diamalkan pada hari ‘Asyura, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Al-Makki dalam kitabnya Nihayah al-Zainfi Irsyad al-mubtabiin,para ulama besar meriwayatkan, bahwa ada dua belas amalan yang dianjurkan untuk dilakukan di hari Asyura, yaitu, shalat, terlebih shalat tasbih, puasa, shadaqah, infka kepada keluarga, mandi besar, mengunjungi ulama shalih, menjenguk orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memakai celak mata, memotong kuku, membaca surat al-ikhlash seribu kali, dan silaturrahim. Ia menambahkan, ibnu hajar al-asqalani dalam syarh al-bukhari menyebutkan doa bahwa orang yang mengucapkannya pada hari Asyura maka hatinya tidak mati. Doa tersebut yaitu:
سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ المِيْزَان وَمُنْتَهَى العِلْمِ ومَبْلَغ الرِضَا وَزِنَةَ العَرْشِ والحَمْدُ لِلهِ مِلْءَ المِيْزَان وَمُنْتَهَى العِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِضَا وَزِنَةَ العَرْشِ واللهُ أَكْبَر مِلْءَ المِيْزَان وَمُنْتَهَى العِلْم وَمَبْلَغَ الرضَا وَزِنَةَ العَرْشِ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إلَّا إِلَيْهِ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَفْعِ وَالوِتْرِ وعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَامَّاتِ كُلِّهَا والحَمْدُ لِلهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَامَّاتِ كُلِّهَا وَاللهُ أَكْبَر عَدَدَ الشَّفْعِ وَالوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَامَّاتِ كُلِّهَا
 أَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ العَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِهِ وَصَحْبِه أَجْمَعِين والحمد لله رب العالمين
Berkata pula Sayyid Ali al-Ajhuri, bahwa orang yang mengatakan pada hari Asyura “hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir__ حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير maka Allah akan melindunginya dari keburukan tahun itu”[7]. Wallahu a’lam bisshawab wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad

SEMOGA BERMANFAAT


Al-Faqir Ila Ridla Rabiihi Dzulkifli Amnan al-Syarafani al-Qudsy al-Jawi
Jum’at, 31 Oktober 2014 09.50 


[1] Abu al-Faraj Abdurrahman al-Jauzi, At-Tabshirah, Mesir: Dar al-Hadist. H.2/2
[2] Abu al-mu’thi muhammad bin umar Nawawi al-Bantani al-Jawi al-Makki (w. 1316 H), Nihayah al-Zain Fi Irsyad al-Mubtadiin, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. 4, 2013. H. 192
[3] Attabshirah, loc.cit.,h.2/2
[4] Syaikh Muhammad bin umar Nawawi al-Bantani al-Jawi al-makki, Mirha Labid li kasyfi ma’na al-qur’an al-majid,Beirut: Dar al-Kutub al-‘ilmiyah, 1417 H. H. 2/542
[5] Imam syafi’i, diwan al-imam al-syafi’i, Beirut: dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2010. H. 36
[6] Al-imam Abu zakaria yahya bin syaraf al-nawawi al-damasyqi, riyadl al-shalihin, Beirut: Dar al-Fikr, 1994. H.233
[7] Nihayah al-zain, Op.cit., h. 191-192
Powered By Blogger